Sego Megono

Nasi Megono: Warisan Kuliner Pesisir Jawa Tengah Nasi Megono, atau dalam dialek lokal disebut Sego Megono, merupakan salah satu hidangan tradisional yang populer sebagai menu sarapan di wilayah pesisir utara Jawa Tengah. Hidangan ini dikenal karena rasanya yang gurih, teksturnya yang kaya, dan nilai budayanya yang mendalam. Asal Usul dan Filosofi Nama Secara etimologis, kata Megono diyakini berasal dari gabungan kata Jawa “mergo” (karena) dan “ono” (ada), yang secara filosofis mencerminkan prinsip kesederhanaan: makan dengan apa yang tersedia. Hidangan ini awalnya dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti nangka muda dan kelapa parut, yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Meski identik dengan Kota Pekalongan, Nasi Megono juga dikenal luas di daerah lain seperti Magelang, Wonosobo, dan Batang, dengan variasi bahan dan cara penyajian yang mencerminkan kekayaan lokal masing-masing. Komposisi dan Variasi Bahan Nasi Megono khas Pekalongan biasanya terdiri dari: Sementara versi Magelangan sering kali diperkaya dengan: Teknik Penyajian yang Unik Ada dua metode penyajian Nasi Megono Magelangan yang umum digunakan: Teknik ini tidak hanya memengaruhi rasa, tetapi juga mencerminkan nilai estetika dan ketelatenan dalam budaya kuliner Jawa. Fungsi Sosial dan Tradisi Di Magelang, Nasi Megono sering disajikan dalam acara syukuran atau pamongan, yaitu tradisi makan bersama sebagai bentuk rasa syukur dan kebersamaan. Hidangan ini menjadi simbol solidaritas dan penghormatan terhadap tamu dan leluhur. Ketersediaan dan Pelestarian Meski kaya akan nilai budaya, Nasi Megono kini semakin jarang ditemukan di warung-warung makan biasa. Keberadaannya lebih sering dijumpai di acara adat atau warung tradisional tertentu. Upaya pelestarian melalui festival kuliner dan dokumentasi resep warisan menjadi penting agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai hidangan ini. Referensi
Mangut Beong

Mangut Beong: Cita Rasa Pedas dari Sungai Progo Mangut Beong merupakan salah satu kuliner tradisional khas Magelang yang menawarkan sensasi rasa pedas dan gurih yang khas. Mangut sendiri adalah jenis masakan berkuah yang menyerupai gulai, namun memiliki tekstur kuah yang lebih encer dan rasa yang lebih tajam karena dominasi cabai dan rempah. Hidangan ini umumnya menggunakan ikan air tawar sebagai bahan utama, dan di Magelang, ikan beong menjadi pilihan utama. Ikan Beong: Endemik Sungai Progo Ikan beong adalah spesies ikan air tawar yang hanya ditemukan di aliran Sungai Progo, menjadikannya sebagai ikan endemik yang tidak mudah dibudidayakan. Bentuknya menyerupai ikan lele, namun berukuran lebih besar dan memiliki daging yang tebal, terutama di bagian kepala. Karena hidup secara liar dan mengonsumsi makanan alami seperti tumbuhan sungai dan ikan kecil, ikan beong dipercaya memiliki kandungan nutrisi yang tinggi dan bebas dari bahan kimia. Mengolah Ikan Beong Menjadi Mangut Meski ikan beong memiliki tekstur daging yang padat dan kaya nutrisi, bau amisnya cukup tajam sehingga tidak cocok hanya digoreng atau dimasak dengan bumbu ringan. Oleh karena itu, pengolahan menjadi mangut dengan kuah santan pedas dan rempah-rempah menjadi cara terbaik untuk menyajikannya. Langkah Memasak Mangut Beong Hasil akhir dari proses ini adalah mangut beong yang memiliki cita rasa pedas, gurih, dan kaya rempah. Tekstur daging ikan yang tebal berpadu dengan kuah santan yang meresap menjadikan hidangan ini sangat menggugah selera, terutama bagi pecinta kuliner pedas. Referensi:
Wedhang Kacang

Wedang Kacang: Hangatnya Tradisi dalam Semangkuk Manis Gurih Wedang Kacang merupakan minuman tradisional khas Jawa Tengah yang menyatukan kelembutan kacang tanah dan pulennya ketan putih dalam kuah manis yang hangat. Disajikan dalam mangkuk kecil, minuman ini sangat cocok dinikmati pada malam hari sebagai penghangat tubuh sekaligus pengisi perut. Lebih dari sekadar minuman, wedang kacang menyimpan jejak sejarah panjang. Hidangan ini dipercaya berasal dari kawasan Pecinan di Semarang dan telah dikenal sejak masa kolonial Belanda. Dahulu, wedang kacang mudah dijumpai di sudut-sudut kota, dijajakan oleh pedagang kaki lima sebagai minuman rakyat. Kini, keberadaannya mulai langka dan hanya bisa ditemukan di beberapa kedai tradisional, seperti di Magelang dan sekitarnya. Proses Pembuatan yang Penuh Ketelatenan Untuk menghasilkan tekstur kacang yang empuk dan kuah yang kaya rasa, proses pembuatannya membutuhkan kesabaran. Kacang tanah direndam terlebih dahulu dalam air panas yang telah dicampur gula pasir selama satu hari penuh. Setelah itu, kacang direbus dalam waktu lama bersama gula hingga menghasilkan kuah berwarna kecoklatan yang sedikit kental. Proses perebusan yang panjang ini membuat kacang menjadi sangat lembut, bahkan terasa lumer di mulut. Setelah matang, wedang kacang disajikan dalam mangkuk bersama ketan putih yang pulen. Perpaduan rasa manis dari kuah, gurihnya kacang, dan tekstur kenyal dari ketan menciptakan sensasi yang memanjakan lidah dan memberikan kehangatan yang khas. Lebih dari Sekadar Sajian Wedang kacang bukan hanya pelepas dahaga, tetapi juga bagian dari warisan budaya kuliner Indonesia. Di Magelang, minuman ini menjadi sajian khas yang sering dihidangkan dalam acara keluarga, syukuran, atau sebagai teman ngobrol di malam hari. Kandungan karbohidrat dari kacang dan ketan menjadikannya cukup mengenyangkan, cocok sebagai pengganti camilan berat. Kedai legendaris seperti Wedang Kacang Kebon di Magelang telah mempertahankan tradisi ini sejak tahun 1982, menjadi tempat favorit masyarakat dan pelancong yang ingin mencicipi kehangatan kuliner lokal. Proses perebusan kacang yang memakan waktu hingga 1,5 jam menunjukkan dedikasi dalam menjaga cita rasa autentik yang diwariskan secara turun-temurun. Referensi: Photo: https://pdipkreatif.id/
Gethuk

Gethuk: Warisan Rasa dan Simbol Kesederhanaan dari Magelang Gethuk adalah salah satu kuliner tradisional khas Magelang, Jawa Tengah, yang terbuat dari bahan utama singkong. Makanan ini telah menjadi ikon kota Magelang dan dikenal luas di berbagai daerah di Pulau Jawa. Gethuk bukan hanya sekadar jajanan pasar, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang mendalam. Asal-usul gethuk dapat ditelusuri ke masa penjajahan Jepang di Indonesia. Kala itu, beras sebagai makanan pokok sangat langka, sehingga masyarakat beralih ke singkong sebagai sumber karbohidrat utama. Di Desa Karet, Magelang, seorang tokoh bernama Ali Mohtar menciptakan inovasi dengan mengukus singkong, lalu menumbuknya dan mencampurnya dengan gula merah. Proses penumbukan yang menghasilkan bunyi “thuk-thuk” inilah yang kemudian menginspirasi nama “gethuk”. Filosofi di Balik Gethuk Lebih dari sekadar makanan, gethuk mencerminkan nilai-nilai kesederhanaan dan kebersamaan dalam budaya Jawa. Bahan-bahannya yang sederhana—singkong, gula, dan kelapa parut—melambangkan kedekatan masyarakat dengan alam dan prinsip hidup yang tidak berlebihan. Dalam tradisi Jawa, pembuatan gethuk sering dilakukan secara gotong royong, terutama saat hajatan atau kenduri, menjadikannya simbol kebersamaan dan solidaritas. Ragam Varian Gethuk Seiring waktu, gethuk berkembang menjadi berbagai varian yang mencerminkan kreativitas masyarakat lokal: Jenis Gethuk Ciri Khas Gethuk Singkong Terbuat dari singkong rebus, dicampur gula merah, berwarna cokelat, tekstur kasar. Gethuk Lindri Singkong digiling halus dengan gula pasir, diberi pewarna dan vanili, dicetak memanjang. Gethuk Goreng Sokaraja Gethuk yang digoreng, khas dari Banyumas, memiliki rasa manis gurih yang unik. Gethuk Pisang Kediri Menggunakan pisang sebagai bahan utama, menghasilkan rasa manis alami. Gethuk Talas & Ubi Menggunakan bahan dasar selain singkong, seperti talas atau ubi ungu. Gethuk Gulung & Bakar Inovasi modern dengan bentuk gulungan atau dibakar untuk sensasi berbeda. Beberapa varian lain seperti gethuk nyimut dari Kudus, gethuk yoko kurung dari Klaten, hingga gethuk nylekitho dari Cilacap menunjukkan betapa luasnya adaptasi makanan ini di berbagai daerah. Gethuk di Era Modern Meski berasal dari masa lalu, gethuk tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern. Kini, banyak pelaku kuliner yang mengemas gethuk dalam tampilan kekinian—dengan tambahan rasa cokelat, keju, hingga matcha—tanpa menghilangkan cita rasa aslinya. Bahkan, beberapa kafe dan restoran mulai menyajikan gethuk sebagai menu khas yang menarik perhatian generasi muda. Gethuk bukan hanya makanan, tapi juga cerminan sejarah, kreativitas, dan filosofi hidup masyarakat Jawa. Jika Anda berkunjung ke Magelang, jangan lewatkan kesempatan mencicipi sepotong gethuk—karena di balik rasa manisnya, tersimpan kisah panjang tentang ketahanan, inovasi, dan kebersamaan. Referensi: Photo: https://magelangekspres.disway.id/read/657598/fakta-unik-getuk-makanan-tradisional-khas-magelang-yang-menggugah-selera
Sop Senerek

Sop Senerek: Warisan Kolonial yang Menjadi Ikon Rasa Magelang Sop Senerek bukanlah sekadar sop biasa. Kuliner khas Magelang ini dikenal dengan kuah kaldu bening yang gurih dan isian yang melimpah. Dalam satu mangkuk, tersaji kacang merah, bayam, wortel, seledri, dan daun bawang, dipadukan dengan irisan daging sapi, ayam, atau jeroan seperti babat dan usus. Rasanya hangat, kaya, dan mengenyangkan—cocok disantap kapan saja, terutama saat udara dingin menyapa lereng Gunung Tidar. Jejak Sejarah dari “Snert” ke “Senerek” Sop Senerek memiliki akar sejarah yang panjang, bermula dari masa kolonial Belanda. Nama “senerek” diyakini berasal dari kata Belanda snert, yang berarti sup kacang polong. Dahulu, tentara Belanda kerap menyantap snert soup bersama roti sebagai makanan pokok mereka. Karena lidah masyarakat lokal kesulitan mengucapkan kata “snert”, maka muncullah istilah “senerek”. Seiring waktu, bahan dasar kacang polong yang sulit ditemukan di Indonesia digantikan dengan kacang merah, yang lebih mudah diperoleh dan sesuai dengan selera lokal. Inovasi ini memperkaya cita rasa dan menjadikan Sop Senerek sebagai kuliner khas yang bertahan hingga kini. Cita Rasa Sederhana yang Sarat Makna Meski tampilannya sederhana, Sop Senerek menyimpan kekayaan rasa dan nilai budaya. Kuah kaldunya yang bening namun gurih dihasilkan dari rebusan daging dan rempah-rempah seperti pala, kayu manis, dan cengkeh. Beberapa resep bahkan menambahkan air kelapa untuk memberi aroma khas. Sop ini biasanya disajikan bersama nasi putih dan pelengkap seperti tempe goreng, tahu, perkedel, atau bakwan udang. Warung-Warung Legendaris Penjaga Tradisi Di Magelang, Sop Senerek telah menjadi ikon kuliner yang dijaga oleh sejumlah warung legendaris, di antaranya: Setiap warung memiliki ciri khas tersendiri, baik dari segi isian, kuah, maupun pelengkapnya, menjadikan pengalaman menyantap Sop Senerek selalu unik di tiap tempat. Dari Dapur ke Destinasi Wisata Sop Senerek bukan hanya makanan rumahan, tetapi juga simbol akulturasi budaya dan identitas kuliner Magelang. Dalam Journal of Tourism Education, Sop Senerek disebut memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata gastronomi yang dapat diintegrasikan dengan destinasi budaya seperti Candi Borobudur. Kuliner ini mencerminkan sembilan elemen penting dalam gastronomi: mulai dari bahan baku, teknik memasak, hingga nilai sejarah dan sosial. Pengakuan Nasional Pada tahun 2020, Sop Senerek dinobatkan sebagai salah satu dari 10 nominasi dalam kategori Makanan Tradisional Terpopuler di ajang Anugerah Pesona Indonesia (API). Penghargaan ini menjadi bukti bahwa Sop Senerek bukan hanya milik Magelang, tetapi juga bagian dari kekayaan kuliner nasional yang layak dilestarikan dan dipromosikan. Referensi:
Kupat Tahu

Kupat Tahu Magelang: Jejak Tradisi dalam Sepiring Sederhana Kupat tahu bukan sekadar sajian kuliner biasa—ia adalah bagian dari identitas budaya Magelang yang telah melewati berbagai zaman. Meski tidak tercatat secara pasti sejak kapan kupat tahu menjadi makanan khas daerah ini, jejaknya sudah terlihat sejak masa pemerintahan kolonial Belanda. Dahulu, para penjual menjajakan kupat tahu dengan cara dipikul menggunakan angkring atau didorong dengan gerobak. Namun, sejak era Orde Baru, banyak pedagang memilih menetap di satu tempat karena yakin pelanggan akan datang sendiri. Salah satu warung legendaris yang menjadi saksi sejarah kuliner ini adalah Tahu Pojok, yang dirintis oleh Ahmad Danuri pada tahun 1942. Awalnya, ia menjajakan kupat tahu secara keliling. Baru pada tahun 1950, ia menetap di sebuah kios sederhana beratap seng di Jalan Tentara Pelajar No. 14, yang kemudian dikenal sebagai kawasan Ngesengan. Warung ini dikenal sebagai pelopor kupat tahu Magelang dan kini telah dikelola oleh generasi ketiga. Perpaduan Rasa dan Filosofi Kupat tahu terdiri dari potongan ketupat (nasi yang dikukus dalam anyaman janur), tahu goreng, tauge, dan irisan kol, disiram dengan bumbu kacang yang gurih dan sedikit manis. Beberapa penjual menambahkan kecap manis, bawang goreng, dan kerupuk sebagai pelengkap. Di Magelang, versi lokalnya sering kali lebih ringan dan tidak terlalu kental dibandingkan dengan kupat tahu dari daerah lain seperti Bandung atau Singaparna. Kupat tahu bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol kebersamaan. Ketupat sendiri memiliki makna filosofis yang dalam dalam budaya Jawa. Menurut Prof. Dr. Bani Sudardi dari Universitas Sebelas Maret, istilah “kupat” sudah dikenal sejak abad ke-9 dan erat kaitannya dengan ajaran Sunan Kalijaga yang memperkenalkan ketupat sebagai simbol pengampunan dan kebersihan hati dalam tradisi Lebaran. Ragam dan Persebaran Kupat tahu memiliki banyak varian di berbagai daerah di Indonesia: Kupat tahu juga memiliki kemiripan dengan hidangan lain seperti ketoprak di Jakarta, tahu campur di Surabaya, dan tahu gimbal di Semarang, yang semuanya mengandalkan perpaduan tahu, karbohidrat, dan bumbu kacang sebagai elemen utama. Referensi:
Museum Karmawibhangga

Museum Karmawibhangga: Menyingkap Jejak Karma dan Sejarah di Balik Megahnya Borobudur Museum Karmawibhangga—juga dikenal sebagai Museum Borobudur—merupakan museum arkeologi yang terletak hanya beberapa ratus meter di sebelah utara Candi Borobudur, di dalam kawasan Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Museum ini menjadi bagian penting dari kompleks arkeologi Borobudur dan berfungsi sebagai pusat informasi sejarah, konservasi, dan edukasi budaya. Koleksi dan Fungsi Museum Museum ini menampilkan berbagai koleksi penting, antara lain: Arsitektur dan Filosofi Bangunan museum dirancang dengan gaya arsitektur tradisional Jawa berupa rumah joglo lengkap dengan pendopo, mencerminkan harmoni antara warisan budaya dan fungsi edukatif. Museum ini diresmikan pada tahun 1983 oleh Presiden Soeharto sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan dunia. Relief Karmawibhangga sendiri menggambarkan Kamadhatu, atau alam keinginan dalam kosmologi Buddha. Panel-panel ini tidak membentuk satu narasi utuh, melainkan ilustrasi terpisah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa kuno, mulai dari pertanian, perdagangan, hingga konsekuensi moral seperti hukuman di neraka atau pahala di surga. Museum Samudra Raksa: Tetangga Sejarah yang Tak Kalah Menarik Tepat di sisi barat Museum Karmawibhangga terdapat Museum Samudra Raksa, yang menampilkan replika Kapal Borobudur—kapal layar kuno yang menggambarkan kejayaan maritim Nusantara. Kapal ini pernah digunakan dalam ekspedisi lintas samudra dari Indonesia ke Afrika Timur pada tahun 2003, membuktikan kemampuan pelayaran nenek moyang bangsa Indonesia. Akses dan Tiket Pengunjung tidak dikenakan biaya tambahan untuk memasuki Museum Karmawibhangga dan Museum Samudra Raksa, karena keduanya sudah termasuk dalam tiket masuk kawasan Taman Wisata Candi Borobudur. Referensi: Photo: Oleh Gunawan Kartapranata – Karya sendiri, CC BY-SA 4.0, Pranala
Museum Haji Widayat

Museum Haji Widayat: Warisan Seni Sang Maestro di Lereng Borobudur Museum Haji Widayat (MHW) adalah museum seni rupa yang terletak di Jl. Soekarno Hatta No. 32, Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, hanya sekitar dua kilometer dari kawasan Candi Borobudur. Museum ini menyimpan dan memamerkan karya-karya maestro seni rupa modern Indonesia, Haji Widayat, serta koleksi dari para seniman sahabat, murid, dan generasi penerusnya. Museum ini diresmikan pada 30 April 1994 oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia saat itu. Namun, gagasan pendiriannya telah muncul jauh sebelumnya, sebagai wujud keprihatinan H. Widayat terhadap karya-karya mahasiswa seni yang hanya menumpuk di gudang dan tidak mendapat ruang apresiasi yang layak. Ruang Seni yang Hidup dan Terbuka Berdiri di atas lahan seluas 7.000 meter persegi, kompleks MHW terdiri dari beberapa bagian utama: Bangunan museum dirancang oleh arsitek Ir. H. Edji Sukedji, sahabat H. Widayat yang dikenalnya saat menunaikan ibadah haji. Desainnya memanfaatkan pencahayaan alami melalui dinding kaca, menciptakan suasana terang dan hidup yang mendukung pengalaman visual pengunjung. Filosofi dan Misi Budaya Haji Widayat dikenal sebagai “Bapak Lukisan Dekoratif Indonesia” karena gaya khasnya yang memadukan unsur tradisional, simbolisme budaya, dan estetika modern. Museum ini bukan hanya tempat pameran, tetapi juga ruang belajar dan apresiasi seni. MHW secara aktif menyelenggarakan pameran, workshop, dan program edukasi untuk masyarakat umum dan pelajar seni. Dengan semangat pelestarian budaya, MHW berharap dapat terus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dalam menjaga dan mengembangkan seni rupa Indonesia agar tetap hidup dan relevan di masa depan. Referensi:
Museum Taruna Abdul Djalil

Museum Nasional Indonesia: Jejak Pencerahan, Penjajahan, dan Pelestarian Budaya Menjelang akhir abad ke-18, Eropa mengalami gelombang besar revolusi intelektual yang dikenal sebagai The Age of Enlightenment. Era ini ditandai dengan berkembangnya pemikiran rasional, ilmu pengetahuan, dan semangat untuk mendokumentasikan serta memahami dunia secara sistematis. Semangat ini turut menginspirasi berdirinya berbagai lembaga ilmiah, termasuk di wilayah kolonial seperti Hindia Belanda. Pada tahun 1752, di Haarlem, Belanda, berdiri De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen, sebuah perkumpulan ilmiah yang kemudian menginspirasi pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) di Batavia pada 24 April 1778. Lembaga ini bersifat independen dan bertujuan memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, khususnya biologi, fisika, arkeologi, etnologi, kesusastraan, dan sejarah. Semboyannya, Ten Nutte van het Algemeen (“Untuk Kepentingan Masyarakat Umum”), mencerminkan semangat pencerahan yang inklusif dan edukatif. Salah satu pendiri BG, J.C.M. Radermacher, menyumbangkan rumah pribadinya di Jalan Kalibesar, kawasan perdagangan penting di Batavia, beserta koleksi buku dan benda budaya. Inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan pertama di Hindia Belanda. Dari Gedung Harmonie ke Gedung Gajah Selama masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811–1816), Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru di Jalan Majapahit No. 3 untuk menampung koleksi yang terus bertambah. Gedung ini juga digunakan sebagai ruang pertemuan Literary Society. Namun, seiring waktu, koleksi BG semakin melimpah hingga gedung tersebut tak lagi memadai. Pada tahun 1862, pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun gedung museum baru di Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 (dulu Koningsplein West). Gedung ini resmi dibuka untuk umum pada tahun 1868. Di halaman depannya, berdiri patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand pada tahun 1871, yang kemudian membuat masyarakat menjulukinya sebagai “Museum Gajah”. Transformasi Pasca-Kemerdekaan Pada tahun 1923, BG memperoleh gelar “Koninklijk” (kerajaan) karena kontribusinya dalam bidang ilmiah, menjadikannya Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Namun, setelah Indonesia merdeka, pada 26 Januari 1950, lembaga ini diubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia dengan semboyan baru: “Memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya”. Pada 17 September 1962, pengelolaan museum diserahkan kepada pemerintah Indonesia dan berganti nama menjadi Museum Pusat. Kemudian, melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 092/0/1979, statusnya ditingkatkan menjadi Museum Nasional. Koleksi dan Peran Budaya Kini, Museum Nasional menyimpan lebih dari 190.000 koleksi yang terbagi dalam tujuh kategori utama: Museum ini berdiri di atas lahan seluas 26.500 meter persegi dan memiliki dua gedung utama: Gedung A untuk pameran tetap dan penyimpanan koleksi, serta Gedung B (dikenal sebagai Gedung Arca) yang diresmikan pada 20 Juni 2007 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berfungsi sebagai ruang pameran, laboratorium, perpustakaan, dan kantor. Museum Nasional di Era Modern Pada 22 Maret 2021, Museum Nasional ditetapkan sebagai instansi pemerintah pusat dengan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU) berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 117/KMK.05/2021. Status ini memungkinkan museum untuk lebih fleksibel dalam pengelolaan keuangan dan pengembangan program edukatif serta pelestarian budaya. Museum Nasional juga aktif menyelenggarakan pameran temporer, lokakarya, pertunjukan budaya, dan program edukasi publik yang menjangkau berbagai kalangan, dari pelajar hingga peneliti internasional. Museum Nasional Indonesia bukan hanya tempat menyimpan artefak, tetapi juga jendela untuk memahami perjalanan panjang bangsa ini—dari masa prasejarah, kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara, kolonialisme, hingga kemerdekaan. Ia adalah simbol dari semangat pencerahan, pelestarian, dan kebanggaan budaya Indonesia. Referensi:Profil Museum Nasional – Tirto.idMuseum Nasional Indonesia – NOW! JakartaMuseum Nasional – UrbanasiaMuseum Nasional – Besi NusantaraMuseum Nasional – VymapsMuseum Akmil
Museum OHD

Museum OHD: Surga Seni Rupa Modern dan Kontemporer di Jantung Magelang Di tengah kota Magelang yang tenang dan sarat sejarah, berdiri sebuah museum seni yang menjadi salah satu pusat apresiasi seni rupa paling penting di Indonesia: Museum OHD. Museum ini merupakan museum pribadi milik Dr. Oei Hong Djien, seorang kolektor seni terkemuka yang telah mengabdikan hidupnya untuk mengoleksi, merawat, dan memamerkan karya-karya seni rupa modern dan kontemporer Indonesia. Nama OHD sendiri merupakan singkatan dari nama pemiliknya, Oei Hong Djien, yang lahir di Magelang pada tahun 1939. Lulusan Fakultas Kedokteran tahun 1964 ini melanjutkan studi ke Belanda pada 1966–1968, dan kemudian mewarisi bisnis tembakau keluarganya. Namun, di balik profesinya sebagai dokter dan pengusaha, Dr. Oei memiliki kecintaan mendalam terhadap seni. Ia mulai mengoleksi karya seni sejak tahun 1970-an dan kini memiliki lebih dari 2.000 karya, termasuk lukisan, patung, instalasi, hingga seni media baru. Koleksi dan Ruang Pamer Museum OHD terbagi menjadi tiga bangunan utama: Koleksi Dr. Oei tidak hanya dipamerkan di Magelang. Ia juga kerap meminjamkan koleksinya untuk pameran di dalam dan luar negeri, serta pernah menjadi penasihat untuk National Art Gallery of Singapore dan anggota dewan Yayasan Biennale Yogyakarta. Penghargaan dan Peran Edukatif Museum OHD pernah dianugerahi penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 23 April 2012 sebagai museum dengan koleksi lukisan Indonesia terlengkap yang mewakili setiap periode sejarah seni rupa. Lebih dari sekadar ruang pamer, museum ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi dan apresiasi seni, terutama bagi generasi muda. Melalui berbagai pameran tematik, pertunjukan seni, dan program edukatif, Museum OHD berupaya menumbuhkan kecintaan terhadap seni rupa Indonesia. Akses dan Informasi Pengunjung Museum OHD terletak di Jl. Jenggolo No. 14, Kemirirejo, Magelang Tengah, hanya sekitar satu jam perjalanan dari Yogyakarta. Museum ini buka setiap hari Rabu hingga Senin, pukul 10.00–16.00 WIB, dan tutup setiap hari Selasa. Museum OHD bukan hanya tempat menyimpan karya seni, tetapi juga ruang hidup yang terus berkembang, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan seni rupa Indonesia. Di balik dinding-dindingnya, tersimpan semangat kolektif para seniman Indonesia yang tak hanya menciptakan keindahan, tetapi juga merekam sejarah, budaya, dan identitas bangsa. Referensi:Oei Hong Djien – Tentang Museum OHDTravelspromo – Tiket dan Koleksi OHD MuseumBudaya Indonesia – Museum OHDPancar ID – OHD Museum, Destinasi Seni