Monumen Pangeran Diponegoro di Magelang: Simbol Perlawanan dan Ingatan Kolektif Bangsa
Monumen Pangeran Diponegoro yang berdiri megah di tengah Alun-Alun Kota Magelang bukan sekadar patung perunggu, melainkan simbol perlawanan, pengkhianatan, dan keteguhan seorang pahlawan nasional dalam menghadapi kolonialisme. Monumen ini dibangun untuk mengenang peristiwa tragis penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal De Kock pada tahun 1830, yang menandai akhir dari Perang Jawa (1825–1830)—salah satu perlawanan terbesar terhadap penjajahan Belanda di Nusantara.
Latar Belakang dan Proses Pembangunan
Gagasan pembangunan monumen ini diprakarsai oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu, Soepardjo Roestam, dan direalisasikan oleh Wali Kota Magelang, Moch Subroto (1966–1979). Pembangunan dimulai pada 1 April 1977 dan selesai pada 31 Juli 1977. Monumen ini kemudian diresmikan pada 11 Agustus 1977.
Dua seniman, Hartono dan Soedjatmoko, dipercaya sebagai perancang monumen. Mereka merancang patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda, menggambarkan semangat juang dan kepemimpinan beliau dalam memimpin rakyat melawan penjajah.
Dimensi dan Simbolisme
Monumen ini memiliki panjang 5 meter dan tinggi 4 meter. Di bagian bawah patung terdapat relief perjuangan Pangeran Diponegoro serta sebuah candra sengkala berbunyi:
“Turonggo Tinitihan Sesekaring Bawono”
Secara harfiah, kalimat ini berarti “kuda yang dinaiki bunga bangsa”, namun dalam tradisi Jawa, kalimat tersebut merupakan bentuk surya sengkala—kode angka tahun yang dibaca dari belakang. Kata:
- Turonggo = 7
- Tinitihan = 7
- Sesekaring = 9
- Bawono = 1
Jika dibaca dari belakang, maka menunjukkan angka tahun 1977, tahun peresmian monumen.
Makna Historis dan Kultural
Monumen ini dibangun di lokasi yang sangat simbolis—Alun-Alun Kota Magelang—tempat Pangeran Diponegoro ditangkap secara licik oleh Jenderal De Kock setelah diundang untuk berunding. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dan menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan dan integritas dalam perjuangan bangsa.
Monumen ini juga menjadi bagian dari lanskap sejarah yang lebih luas, karena berdekatan dengan Museum Diponegoro (Museum Kamar Pengabdian), yang menyimpan berbagai peninggalan pribadi sang pangeran, termasuk jubah, kitab siasat perang, dan meja kursi yang pernah digunakan saat perundingan.
Monumen Pangeran Diponegoro di Magelang bukan hanya penanda sejarah, tetapi juga pengingat abadi tentang keberanian, pengorbanan, dan keteguhan hati seorang pemimpin bangsa. Ia berdiri sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan sebagai inspirasi bagi generasi masa kini untuk terus menjaga semangat kebangsaan dan keadilan.
Referensi
Monumen Diponegoro Kota Magelang – Kompas.com
Monumen Pangeran Diponegoro – Disperpusip Magelang
Museum Diponegoro Magelang – Wikipedia
Nusantara62 – Kisah di Balik Monumen Pahlawan Diponegoro