Jalan-jalan

Liong Hok Bio

Kelenteng Liong Hok Bio adalah salah satu bangunan bersejarah yang menjadi simbol keberadaan dan kontribusi masyarakat Tionghoa di Kota Magelang. Terletak di Jalan Alun-Alun Utara No. 2, kelenteng ini berdiri megah di kawasan Pecinan, tidak jauh dari pusat kota. Didirikan pada tahun 1864 oleh Kapitein Be Koen Wie (juga dikenal sebagai Be Tjok Lok), kelenteng ini awalnya dibangun di atas tanah milik pribadi yang kemudian dialihfungsikan menjadi tempat ibadah. Bangunan ini menjadi pusat spiritual bagi pemeluk Taoisme dan Konghucu, serta menjadi saksi bisu perjalanan sejarah etnis Tionghoa di Magelang.

Sejarah kelenteng ini tak lepas dari peristiwa Geger Pecinan tahun 1740, ketika ribuan orang Tionghoa di Batavia dibunuh dan diusir oleh pemerintah kolonial Belanda. Sebagian dari mereka melarikan diri ke berbagai kota di Jawa Tengah, termasuk ke wilayah Kedu Selatan. Di sana, mereka menetap di Desa Klangkang Jono dan membawa serta patung Twa Pek Kong, Dewa Bumi yang menjadi pusat pemujaan di kelenteng Liong Hok Bio. Setelah Perang Diponegoro pecah pada 1825, masyarakat Tionghoa kembali terdesak dan akhirnya menetap di Magelang, membentuk komunitas yang kini dikenal sebagai Pecinan.

Kelenteng Liong Hok Bio memiliki daya tarik arsitektur yang khas, dengan ornamen naga dan warna merah yang mendominasi. Salah satu daya tarik utamanya adalah keberadaan Hio terbesar se-Asia Tenggara, yaitu dupa raksasa seberat 3,8 ton yang digunakan dalam ritual keagamaan. Kelenteng ini juga dilengkapi dengan fasilitas umum seperti area parkir, toilet, dan warung makan, menjadikannya destinasi wisata budaya yang ramah pengunjung. Pengelolaan kelenteng saat ini berada di bawah yayasan Tiong Hwa Hwee Kwan (THHK), yang aktif menjaga kelestarian bangunan dan tradisi keagamaan.

Selain sebagai tempat ibadah, kelenteng ini juga menjadi titik penting dalam kegiatan budaya dan spiritual. Pada Mei 2023, kelenteng ini menjadi tempat singgah bagi 32 biksu dari Thailand yang melakukan tradisi Thudong, berjalan kaki menuju Candi Borobudur. Peristiwa ini menunjukkan peran kelenteng Liong Hok Bio sebagai ruang lintas budaya dan spiritual yang terbuka bagi berbagai tradisi. Dengan sejarah panjang dan nilai budaya yang tinggi, kelenteng ini tidak hanya menjadi warisan masyarakat Tionghoa, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari identitas Kota Magelang.

Referensi:

Search Room Availability

Required fields are followed by *