Plengkung I di Kota Magelang merupakan salah satu struktur bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1920. Terletak di Jalan Ade Irma Suryani, bangunan ini berfungsi sebagai saluran air atau aqua duct yang mengalirkan air dari Kali Manggis hingga Kampung Jagoan di Magelang Selatan. Dengan tinggi sekitar 7 meter dan lebar 6 meter, Plengkung I menjadi bagian dari sistem irigasi sepanjang 6,5 kilometer yang memanfaatkan gravitasi untuk mengalirkan air dari tempat tinggi ke rendah.
Bangunan ini dibuat melayang di atas gundukan tanah dan melintasi jalan raya, sehingga dibentuk menyerupai gapura atau benteng kecil yang melengkung—itulah asal nama “Plengkung.” Pada masa kolonial, saluran ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga dan mengalirkan limbah dari permukiman warga. Plengkung I dikenal sebagai yang paling “jadul” dan memiliki nuansa asli yang kuat, menjadikannya simbol warisan sejarah Kota Magelang.
Pada masa perjuangan kemerdekaan, Plengkung I bahkan digunakan sebagai benteng oleh para pejuang. Namun kini, kondisinya memprihatinkan dan kurang terawat. Kawasan sekitar Plengkung I menjadi rimbun dan tidak diberdayakan secara maksimal, sehingga berpotensi menjadi area yang tidak layak huni dan rawan penyimpangan sosial. Padahal, letaknya yang berada di tengah kota sangat mempengaruhi wajah dan citra Magelang sebagai kota bersejarah.
Pemerintah Kota Magelang telah merencanakan revitalisasi kawasan Plengkung Kalikota sebagai upaya pelestarian yang tidak hanya mempertahankan romantisme masa lalu, tetapi juga menjadikannya bagian dari dinamika perkotaan masa kini. Melalui perencanaan masterplan yang matang, Plengkung I diharapkan dapat kembali berfungsi secara sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta menjadi ikon sejarah yang berdaya guna bagi masyarakat.
Referensi: