Candi Pawon: Gerbang Spiritualitas di Jantung Peradaban Syailendra
Candi Pawon merupakan salah satu peninggalan arkeologis penting dari masa Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Buddha Mahayana. Terletak di Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, candi ini berada di antara dua candi besar: Candi Mendut dan Candi Borobudur. Jaraknya sekitar 1.750 meter dari Borobudur ke arah timur dan 1.150 meter dari Mendut ke arah barat, membentuk garis lurus yang diyakini memiliki makna kosmologis dan ritual.
Asal Usul Nama dan Fungsi
Nama “Pawon” dalam bahasa Jawa sehari-hari berarti “dapur”, namun ahli epigrafi J.G. de Casparis menafsirkan bahwa kata ini berasal dari “awu” (abu), dengan awalan “pa-” dan akhiran “-an”, yang berarti “tempat abu” atau “perabuan”. Berdasarkan interpretasi ini, Candi Pawon diyakini sebagai tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra (Sri Sanggramadananjaya), ayah dari Raja Samaratungga, penguasa Dinasti Syailendra yang membangun Borobudur.
Beberapa ahli juga menyebut Candi Pawon sebagai “Upa Angga” atau bagian dari Candi Borobudur, berfungsi sebagai gerbang spiritual tempat umat membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum melanjutkan perjalanan ke Borobudur.
Arsitektur dan Keunikan Bangunan
Candi Pawon dibangun dari batu andesit dengan denah bujur sangkar berukuran 10 x 10 meter dan tinggi sekitar 13,3 meter. Bangunan ini terdiri dari tiga bagian utama: kaki, tubuh, dan atap.
- Kaki candi berupa batur setinggi 1,5 meter, dihiasi ornamen sulur-suluran dan bunga.
- Tubuh candi memiliki satu bilik utama yang dahulu diperkirakan menyimpan arca Bodhisattva, kemungkinan terbuat dari perunggu dan memancarkan sinar (vajra) sebagaimana disebut dalam Prasasti Karang Tengah.
- Atap candi berbentuk persegi bersusun, dihiasi empat stupa kecil di setiap sudut dan satu stupa besar di puncaknya, mencerminkan simbolisme Buddha Mahayana.
Pintu masuk candi menghadap ke barat, dihiasi dengan makara di sisi tangga dan kala di atas ambang pintu, elemen khas arsitektur Jawa Kuno.
Ragam Hias dan Simbolisme
Salah satu daya tarik utama Candi Pawon adalah relief-reliefnya yang kaya makna simbolik. Di antaranya:
- Kalpataru, pohon kehidupan yang melambangkan harapan dan kelimpahan.
- Kinara-Kinari, makhluk mitologis setengah manusia setengah burung, yang mengapit Kalpataru dan menggambarkan penjaga kesucian.
- Kuwera, dewa kekayaan, yang digambarkan duduk di atas jambangan berisi pundi-pundi uang.
Relief-relief ini tidak bersifat naratif seperti di Borobudur, melainkan dekoratif dan simbolik, memperkuat fungsi candi sebagai tempat pemujaan dan perenungan spiritual.
Pemugaran dan Pelestarian
Candi Pawon ditemukan kembali pada akhir abad ke-19 dalam kondisi tertimbun semak belukar. Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1897–1904, kemudian dilanjutkan oleh arkeolog Belanda Theodoor van Erp pada tahun 1908. Kini, candi ini menjadi bagian dari kawasan wisata budaya Borobudur dan sering dikunjungi dalam rangkaian ziarah Waisak.
Candi Pawon bukan sekadar bangunan batu kuno, melainkan simpul spiritual yang menghubungkan dua mahakarya agung: Mendut dan Borobudur. Keindahan arsitektur, kedalaman simbolisme, dan nilai sejarahnya menjadikan Candi Pawon sebagai warisan budaya yang tak ternilai. Ia mengajarkan kita bahwa perjalanan spiritual tidak hanya dimulai dari tempat tujuan, tetapi dari langkah pertama yang penuh kesadaran.
Referensi
Candi Pawon – Kompas.com
Candi Pawon – Tirto.id
Sejarah Candi Pawon – Idsejarah.net
Balai Konservasi Borobudur – Candi Pawon
Kumparan – Fungsi dan Makna Relief Candi Pawon
Archipelago ID – Candi Pawon
Photo: Oleh Gunawan Kartapranata – Karya sendiri, CC BY 3.0, Pranala