Jalan-jalan

Candi Selogriyo

Candi Selogriyo: Permata Hindu di Lereng Gunung Sumbing

Candi Selogriyo merupakan salah satu peninggalan arkeologis penting dari masa Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Hindu. Terletak di Dusun Campurejo, Desa Candisari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, candi ini berdiri anggun di lereng timur Gunung Sumbing, tepatnya di antara tiga bukit: Condong, Giyanti, dan Malang, pada ketinggian sekitar 740 meter di atas permukaan laut.

Sejarah dan Penemuan

Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi, pada masa pemerintahan Wangsa Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno. Penemuan kembali Candi Selogriyo dilakukan oleh Hartmann, Residen Magelang, pada tahun 1835 dalam kondisi reruntuhan. Sejak saat itu, berbagai upaya pelestarian dilakukan untuk mengembalikan bentuk aslinya.

Arsitektur dan Ikonografi

Candi Selogriyo mengusung gaya arsitektur Jawa Tengahan yang khas, dengan denah bujur sangkar dan menghadap ke timur. Tidak seperti kompleks candi besar lainnya, Candi Selogriyo berdiri sendiri tanpa candi perwara (pendamping), menjadikannya unik dalam lanskap candi Hindu di Jawa Tengah.

Empat sisi dinding candi memiliki lima relung yang diisi oleh arca-arca perwujudan dewa-dewa Hindu, yaitu:

  • Durga Mahisasuramardini di sisi utara, menggambarkan dewi penakluk raksasa Mahisa.
  • Ganesha di sisi barat, dewa kebijaksanaan dan pelindung ilmu pengetahuan.
  • Agastya di sisi selatan, resi agung yang dihormati dalam tradisi Hindu.
  • Nandiswara dan Mahakala di sisi timur, sebagai penjaga gerbang suci.

Salah satu ciri khas arsitekturalnya adalah kemuncak candi berbentuk buah keben yang disebut amalaka, simbol kesucian dan keabadian dalam kosmologi Hindu.

Bencana dan Rekonstruksi

Pada Desember 1998, Candi Selogriyo mengalami kerusakan parah akibat tanah longsor yang melanda bukit tempatnya berdiri. Proses rekonstruksi dimulai pada tahun 2000 dan selesai pada 2005, dengan tahap rehabilitasi lanjutan dilakukan hingga 2019. Kini, candi ini telah dipugar dan dapat dinikmati kembali dalam bentuk yang mendekati aslinya.

Keindahan Alam dan Nilai Spiritual

Perjalanan menuju Candi Selogriyo bukan hanya ziarah sejarah, tetapi juga pengalaman alam yang memukau. Pengunjung harus menempuh jalan setapak sepanjang 1–2 km melewati ladang terasering dan perbukitan hijau yang menyejukkan mata. Di dekat candi terdapat mata air yang dipercaya memiliki khasiat awet muda oleh masyarakat setempat, menambah dimensi spiritual dan mitologis dari situs ini.

Candi Selogriyo bukan hanya monumen batu, tetapi juga saksi bisu dari peradaban Hindu kuno yang pernah berjaya di tanah Jawa. Keunikan arsitektur, nilai spiritual, serta keindahan alam sekitarnya menjadikan candi ini sebagai destinasi budaya yang layak dikunjungi dan dilestarikan. Ia mengajarkan kita bahwa warisan leluhur bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dihargai dan dijaga bersama.

Referensi

Sejarah Candi Selogriyo – Kompas.com
Candi Selogriyo – Wikipedia
Candi Selogriyo – Kepustakaan Candi Nasional
Candi Selogriyo – Idsejarah.net
Candi Selogriyo – Jatengland.id

    Search Room Availability

    Required fields are followed by *