Jalan-jalan

Kupat Tahu

Kupat Tahu Magelang: Jejak Tradisi dalam Sepiring Sederhana

Kupat tahu bukan sekadar sajian kuliner biasa—ia adalah bagian dari identitas budaya Magelang yang telah melewati berbagai zaman. Meski tidak tercatat secara pasti sejak kapan kupat tahu menjadi makanan khas daerah ini, jejaknya sudah terlihat sejak masa pemerintahan kolonial Belanda. Dahulu, para penjual menjajakan kupat tahu dengan cara dipikul menggunakan angkring atau didorong dengan gerobak. Namun, sejak era Orde Baru, banyak pedagang memilih menetap di satu tempat karena yakin pelanggan akan datang sendiri.

Salah satu warung legendaris yang menjadi saksi sejarah kuliner ini adalah Tahu Pojok, yang dirintis oleh Ahmad Danuri pada tahun 1942. Awalnya, ia menjajakan kupat tahu secara keliling. Baru pada tahun 1950, ia menetap di sebuah kios sederhana beratap seng di Jalan Tentara Pelajar No. 14, yang kemudian dikenal sebagai kawasan Ngesengan. Warung ini dikenal sebagai pelopor kupat tahu Magelang dan kini telah dikelola oleh generasi ketiga.

Perpaduan Rasa dan Filosofi

Kupat tahu terdiri dari potongan ketupat (nasi yang dikukus dalam anyaman janur), tahu goreng, tauge, dan irisan kol, disiram dengan bumbu kacang yang gurih dan sedikit manis. Beberapa penjual menambahkan kecap manis, bawang goreng, dan kerupuk sebagai pelengkap. Di Magelang, versi lokalnya sering kali lebih ringan dan tidak terlalu kental dibandingkan dengan kupat tahu dari daerah lain seperti Bandung atau Singaparna.

Kupat tahu bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol kebersamaan. Ketupat sendiri memiliki makna filosofis yang dalam dalam budaya Jawa. Menurut Prof. Dr. Bani Sudardi dari Universitas Sebelas Maret, istilah “kupat” sudah dikenal sejak abad ke-9 dan erat kaitannya dengan ajaran Sunan Kalijaga yang memperkenalkan ketupat sebagai simbol pengampunan dan kebersihan hati dalam tradisi Lebaran.

Ragam dan Persebaran

Kupat tahu memiliki banyak varian di berbagai daerah di Indonesia:

  • Kupat Tahu Magelang – Kuah ringan, bumbu kacang lembut, dan pelengkap sederhana.
  • Kupat Tahu Bandung – Lebih kental, manis, dan sering disajikan dengan kerupuk merah.
  • Kupat Tahu Singaparna (Tasikmalaya) – Dikenal dengan rasa pedas dan bumbu kacang yang kuat.
  • Kupat Tahu Solo – Biasanya disajikan dengan tambahan sambal dan kerupuk gendar.

Kupat tahu juga memiliki kemiripan dengan hidangan lain seperti ketoprak di Jakarta, tahu campur di Surabaya, dan tahu gimbal di Semarang, yang semuanya mengandalkan perpaduan tahu, karbohidrat, dan bumbu kacang sebagai elemen utama.

Referensi:

Search Room Availability

Required fields are followed by *